Putu Puspawati

Om Swastyastu

Terlahir di sebuah desa kecil yang subur dari keluarga yang sangat sederhana di Penebel, Tabanan, anak tengah dari tujuh bersaudara. Ni Putu Puspawati itulah nama saya. Sebuah nama Bali yang sangat saya banggakan karena merupakan tanda keberadaan saya di dunia ini, pemberian dari ke dua orangtua yang sangat saya cintai dan hormati.

Mungkin suatu kebetulan karena saya terlahir dihari Tumpek Wariga atau karena memang rutinitas keseharian saya dari kecil hingga dewasa selalu di kebun dan disawah yang mengedepankan kepentingan bersama, saya terbiasa berbagi dalam kebersamaan dan keselarasan kehidupan lingkungan alam desa.

Saya tidak pernah lupa waktu kecil saya terbiasa melakukan sendiri upacara/ngotonin pohon kelapa, durian, nangka, dan yang lainnya di kebun. Dan di sore harinya setelah saya mandi lanjut saya yang di otoni oleh Ibu saya.

Saat ini saya bekerja sebagai Direktur dari sebuah perusahaan asing (PMA) di Denpasar yang bergerak di bidang desain perhiasan. Perusahaan ini juga rutin melakukan penanaman berbagai jenis bamboo di Nusa Penida dan di seluruh Bali karena seiring dengan salah satu visinya untuk tetap menjaga kelestarian dan keseimbangan alam ini. Saya bergabung di perusahaan ini sejak tahun 1997 dimulai dari staf biasa, dan seiring dengan perjalanan waktu di pertengahan tahun 1999 saya mulai sering melakukan tugas perjalanan ke Thailand maupun Hong Kong, dan berkesempatan untuk mengikuti program pendidikan Batu Mulia, Berlian dan Mutiara di GIA (Gemological Institute of America).

Disamping bekerja dan melakukan aktivitas sebagai Ibu dari 2 orang putra yang mulai beranjak remaja, saya juga sangat senang melakukan perjalanan spiritual dan melakukan aktivitas sosial yang saya organisir sendiri, ataupun bergabung dengan beberapa kelompok, instansi ataupun yayasan.

Di perjalanan spiritual dan aktivitas sosial inilah saya bertemu dengan seorang bapak yang punya visi dan misi yang sangat mulia untuk tetap menjaga keseimbangan alam ini (khususnya Bali) dan tidak pernah bosan berbagi bagaimana cara kita untuk bisa hidup seimbang di empat aspek kehidupan (fisik, mental, emosional dan spiritual). Beliau adalah bapak Made Dhasi yang merupakan perintis dan pencetus dari terbentuknya PT Pudak Sari yang merupakan wadah untuk mengembangkan Visi dan Misi untuk hidup selaras dan seimbang dimana kami berkolaborasi bertiga di tambah dengan bapak Nyoman Astina sebagai direktur dari PT Pudak Sari.

Astungkara…. Om Shanti Shanti Shanti Om

***

Itu cetusan kata dari Ibu Puspa. Seperti namanya “Puspa” yang berarti Bunga (mencerminkan keindahan dan kenyamanan), maka bilamana anda bertemu dengannya, berdiskusi dengannya, niscaya akan merasakan kelembutan dan keramahannya.

Bukan memuji, tetapi itulah yang dirasakan setiap klien kami yang berdiskusi ataupun bersilaturahmi kepada ibu Puspa.

Ibu Puspa adalah seorang Direktur di sebuah Perusahaan PMA. Tentu sangatlah sulit meraih posisi dan kepercayaan tersebut. Hal ini tentu tidak terlepas dari ketekunan dan kesungguhan (baca: kegigihan) seorang ibu Puspa dalam menyelesaikan tugas, kewajibannya dan tanggung-jawabnya.

Berbekal pengetahuan dan ilmu management di posisi tersebut serta pegetahuan terhadap konsep keselarasan dengan lingkungan, kami berkolaborasi dengan ibu Puspa serta Bapak Nyoman Astina, dimana ibu Puspa adalah sebagai salah satu Komisaris PT. Pudak Sari.

Dalam perjalanannya menekuni konsep keselarasan dengan alam tersebut, ibu Puspa mempelajari berbagai tradisi keilmuan untuk bisa membantu orang dalam menyelaraskan kehidupannya dengan kondisi alam semesta. Dia paham, bahwa jika kondisi badan kita (Bhuana Alit) tidak selaras dengan lingkungan/alam kita (Bhuana Agung) maka cepat atau lambat maka salah satu dari Bhuana tersebut akan mengalami penurunan kualitas, biasanya yg menurun adalah Bhuana Alit, dan saat itulah Bhuana Alit (tubuh) kita akan sakit. Tanpa disadari kita akan menyalahkan alam…

Ibu Puspa telah melakukan serangkaian bhakti-sosial kepada masyarakan baik dalam bentuk Share, Sumbangan, Bantuan material kepada umat yang benar-benar memerlukan, ataupun melakukan kegiatan penyembuhan terhadap (khususnya) penyakit-penyakit yang tergolong “berat”, seperti : Kanker Payudara, Kanker Getah Bening, Tumor, tidak haid selama 3-6 bulan, Vertigo berkelanjutan, serta berbagai penyakit yang sering tidak terdeteksi secara medis. dan ini dilakukan berkolaborasi dengan beberapa rekannya yang juga mempelajari tradisi keilmuan di Ruang Energi Pudak Sari. Astungkara bisa disembuhkan…

Selamat kami ucapkan kepada Ibu Puspa..

Semoga seluruh keberadaan diberkahi dengan cinta kasih dan keselarasan dengan alam/lingkunagannya..

Astungkara Hyang Widhi..
Insyallah…
Puji Tuhan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s